Suasana dan Keindahan di Kawasan Objek Wisata Danau Kelimutu

Danau Kelimutu atau yang biasa juga disebut Danau 3 Warna. Gambar danau ini pernah muncul di selembaran uang Rp 5000 edisi lama. Apabila hendak pergi ke Danau 3 Warna, wisatawan membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam perjalanan darat menggunakan kendaraan dari pusat Kota Ende.

Akses jalan menuju lokasi berkelok-kelok dan jalanan kurang mulus. Namun sesampai di lokasi objek wisata Danau 3 Warna, panorama indah akan langsung menyambut Anda dan pastinya jauh lebih indah daripada gambar Danau 3 warna di dalam uang kertas edisi lama.

Keindahan Objek Wisata Danau Kelimutu

Tidak jauh dari tempat parkir, mata wisatawan akan disuguhi pesona hutan wisata yang didominasi deretan pepohonan kemiri yang tingginya setara dua lantai. Dengan dedaunannya yang hijau lebat mirip pohon beringin.

Kawasan di sekitar Danau Kelimutu diselimuti udara sejuk dan sesekali suara serangga tonggeret yang semakin membawa suasana alami menenangkan pikiran. Siapa pun yang ingin melihat keindahan danau ini, maka jalan satu-satunya hanya dengan melalui hutan tersebut.

Setelah menyusuri hutan selama 5 menit, pemandangan tebing bebatuan curam akan menyapa wisatawan. Selain itu, ada pula monyet-monyet penunggu sekitar tebing yang mencoba berinteraksi dengan wisatawan.

Perjalanan dengan berjalan kaki dilanjutkan, maka wisatawan harus menaiki 15 anak tangga yang terbuat dari semen untuk melihat 2 dari 3 danau di kawasan objek wisata Danau Kelimutu ini. Kedua danau tersebut dinamai “Tiwu Ata Polo” dan “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” oleh masyarakat sekitar.

Tiwu Ata Polo adalah danau kanan jika posisi tubuh kita menghadap ke danau. Tiwu Ata Polo berwarna hitam. Sedangkan danau yang berada di kiri berwarna tosca bernama Tiwu Nuwa Muri Koo Fai. Kedua danau ini posisinya berdampingan, hanya terpisah oleh tebing bagaikantembok pemisahnya. Sejauh mata kita memandang, sekeliling danau hanyalah tebing-tebing bebatuan.

Wisatawan harus menaiki ratusan anak tangga terlebih dulu agar sampai di puncak Kelimutu, tempat dinama satu danau yang terpisah bernama “Tiwu Ata Mbupu”. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, 1 danau di puncak Kelimutu berwarna hijau bening ini merupakan pusat berkumpulnya arwah orang tua yang telah meninggal dan mereka sering melakukan kebaikan semasa hidupnya.

Bagi orang-orang meninggal muda maupun belum menikah, yang sering berlaku baik sepanjang hidupnya, maka masyarakat setempat meyakini arwah mereka akan berkumpul di “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai”. Sedangkan bagi orang-orang meninggal yang sering melakukan perbuatan tercela semasa hidupnya, maka diyakini arwah mereka akan berkumpul di “Tiwu Ata Polo”.

Wisatawan yang datang ke kawasan Danau Kelimutu biasanya tak hanya mengincar keindahan 3 danau, tetapi juga mengincar sunrise indah khas Kelimutu. Perjalanan ke puncak kelimutu memang akan melelahkan karena jalur poker online yang harus dilewati lumayan curam, tetapi semua itu akan tebayarkan setelah matahari terbit muncul pelahan-lahan.

Usahakan tiba di tugu Kelimutu sekitar jam 5 pagi, bila tak ingin ketinggalan sunrise. Pendaran cahaya matahari keluar dari sela-sela perbukitan yang berjajar. Matahari terbit di Kelimutu akan memberikan kenangan tersendiri karena keindahannya yang luar biasa.

Keramah Tamahan Dalam Festival Danau Kelimutu

Danau kelimutu dikenal juga dengan nama danau 3 warna, selain karena masing-masing danau mempunyai warna berbeda-beda, ketiga danau itu warnanya bisa berubah-ubah kapan pun. Para ahli mengatakan bahwa hal itu dikarenakan komposisi material di dalam dasar danau. Akan tetapi, menurut mitos yang beredar di tengah masyarakat perubahan warna danau mengikuti perubahan suasana politik di negara Indonesia.

Festival “Pati Ka” atau festival memberi makan arwah leluhur biasa diadakan setiap tahunnya, bertepatan dengan 14 Agustus. Pemberian makan berupa sesaji yang terdiri dari Wawi dan Moke. “Wawi” yang artinya daging babi dan “Moke” yakni minuman beralkohol yang khas dari daerah sekitar Kelimutu.

Festival “pati ka” dilaksanakan di helipad sebelum tugu kelimutu. Prosesinya dipimpin ketua adat dan diawali tarian adat yakni “tari gawi”, lalu dilanjutkan dengan peletakan sesaji. Festival diakhiri dengan acara penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba jelajah. Selain itu, dalam acara ramah tamah, semua orang yang hadir diajak menari dan berdansa termasuk para wisatawan domestic dan wisatawan mancanegara yang ikut menyaksikan.

Dalam festival Danau Kelimutu suasana kekeluargaan sangat terasa, bahkan wisatawan mancanegara pun ikut antusias. Tak jarang ada saja wisatawan mancanegara yang turut mengenakan pakaian adat setempat yakni atasan “Lawo Lambu” dan sarung sebagai bawahannya. Dan yang terbaik dari semua itu adalah semua yang hadir di festival Kelimutu dipersilahkan untuk makan gratis.

Pesona dan keindahan Danau Kelimutu lebih dari 5000 rupiah. Sangat sayang bila tak disimpan dalam kenangan maupun jepetan kamera, setidaknya sekali seumur hidup.